PATENKAN KAIN SUMBA DENGAN KABAKIL & Rambu2 kain yang dipelintir dengan rapi

PATENKAN KAIN SUMBA DENGAN KABAKIL & Rambu2 kain yang dipelintir dengan rapi
PATENKAN KAIN SUMBA DENGAN KABAKIL & Rambu2 kain yang dipelintir dengan rapi. Symbol yang susah disalahgunakan.

 

Banyak diantara kita pencinta kain Sumba, mungkin belum pernah mendengarnya, atau mungkin ngga begitu ingin tau itu artinya apa. Buat orang yang belum pernah dengar, dan belum tau aku mau berbagi. Setelah sekian lama belajar tenun Sumba, aku ingin berbagi hal ini. KABAKIL, itu tenunan penutup Selimut Sumba sebelum rambu-rambunya, dan setelah di kabakil, biasanya rambu2 kain itu baru di pelintir dengan rapi. Selain fungsinya melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari badan kain, setiap selimut sumba yang dikabakil itu mendapat nilai plus (nilai tambahan), karena kelihatan rapi dan berkwalitas.

 

Tidak semua penenun bisa membuat Kabakil, jadi keahlian membuat Kabakil ini adalah keahlian tersendiri, jadi sering ada penenun dengan keahlian khusus ini. Seperti di Tanah Batak, Kabakil itu disebut SIRAT, jadi ada ahli khusus hanya menyirat Ulos.

 

Kalau dilihat dari kain2 Sumba zaman dulu, hampir semua di kabakil dan hampir semua di pelintir dengan rapi dan hampir semua ditenun dengan padat. Tapi akhir2 ini banyak penenun dihadapkan dengan “MENGEJAR TARGET” oleh agen atau tengkulak kain, agar bisa dapat kain dalam jumlah besar, sehingga kain2 tenun tadi tidak lagi di kabakil dan dipelintir, sehingga kelihatan seperti kain murahan dan tidak berkwalitas.

 

Kain2 yang tidak dikabakil inilah, saat ini dipakai menjadi kesempatan orang-orang Nakal, baik itu pedangan di luar pulau Sumba maupun didalam Sumba itu sendiri, untuk mencontek dengan mesin ATBM, seperti halnya kain2 yang dibuat di Troso. Kalau dilebarkan berdampingan, kain2 itu akan sangat mirip, karena Troso juga tidak di Kabakil.

 

Penenun daerah, tidak ada gunanya mencoba kampanye menghujat penenun kain Jawa di Troso ya memproduksi kain replica itu, karena pemerintah daerah itu sendiri, tidak mau melakukan itu, atau melindungi penenun gedogan didaerahnya sendiri.

 

Kalau penenun daerah ingin tenunanya dipandang sebagai barang seni, bukan kain yang akan dianggap orang sebagai kain dengan kwalitas kain “LAP” di darpur, benahilah kwalitas kain daerah. Gunakan benang yang bagus (harga2 benang bagus dan jelek tidak terlalu berbeda), tenun kain dengan padat, tenunlah kain dengan kesabaran yang baik dan cipatakan kain yang berkwalitas. Kalau mampu, beri pewarna alam, warna alam lagi disorot pencinta kaiin dunia, karena ada embel-embel positif, dimana kita menyelamatkan bumi.

 

Tidak ada gunanya mencoba berperang dengan Troso, karena pemerintah daerah kita itu, belum bersedia mendukung penenun daerah itu untuk melakukan itu.

 

Jadi BERPERANGLAH DENGAN DIRI SENDIRI dulu, tenun kain seperti kwalitas nenek moyang kita, pelintir dan kabakil, beri nilai plus, maka kainmu itu akan mudah dibedakan dengan kain Troso.

 

Tenun daerah lain juga biasanya ada penutupnya, sekalipun tidak selebar Kabakil kain Sumba, gunakankanlah sebaik mungkin, pelintir kain secantik mungkin, agar bisa dibedakan kwalitas yang asli dan tiruan. Mungkin sekalipun kain2 ini kita pagar dengan baik dengan rambu2 yang keren dan kabakil, orang2 nakal masih berusaha untuk menirunya, namun mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk melakukan itu, dan harga kain tiruan itu tidak akan mungkin lagi dibuat Rp100 ribu. SUKSES SELALU.

 



error: Content is protected !!