KALAU KITA BISA MEMAJANG YANG ASLI, MENGAPA MEMILIH MEMAJANG YANG PALSU?

KALAU KITA BISA MEMAJANG YANG ASLI, MENGAPA MEMILIH MEMAJANG YANG PALSU?

Apakah pemerintah daerah itu perduli/jujur atas nilai makna budaya kain adat nusantara? Bagi teman-teman yang ikut diskusi mengenai hal ini, silahkan bergabung di:  https://www.facebook.com/wastraindonesiaglobal

Di tempat-tempat wisata nusantara ini kita sering menemukan sebuah rumah kain traditional, ataupun itu pondok turisme yang dikelola pemerintah, ataupun sekedar pondok jual cendramata, kita sering menemukan kain-kain berbentuk tenun yang dijual untuk merepresentasikan daerah terseubut.

Sangat sedih rasanyanya kalau pembeli, apalagi yang berpengalaman dan mengerti kain adat nusantara asli, harus dihadapkan dengan dusta-dusta dari rumah2 tenun untuk wisata ini, dimana kalau kita bertanya “Ini kainya dari mana pak/ibu?”. Mereka dengan leluasa akan menjawab bahwa kain itu adalah dari daerah tersebut.

Gambar dibawah ini, kami abadikan dari sebuah rumah tenun yang cukup besar, di Lombok, tidak jauh dari perkampungan Sasak, Sade. Boleh dibilang, hampir 80% dari kain2 yang dipajang di dalam pondok tenun wisata tersebut adalah kain dari luar Lombok, seperti di rak ini, semua kain2 tersebut boleh dibilang 90% dari Troso, Jawa Tengah, dimana kain ini diproduksi dengan ATBM dalam bentuk “mass produced”, jadi bukan kain tenun tangan Lombok. Ketika kami tanyakan dari mana asal dari kain tersebut, mereka menjawab, dari “Sukarare”

Sukarare, adalah sebuah perkampungan yang sangat terkenal dengan tenun tangan gedoganya, dimana songket2 lombok yang masih ditenun tangan itu dibuat. Sukarare, tidak begitu jauh dari Mataram, di Prya district.

Bayangkan, penenun traditional di Sukarare, masih terus berjuang untuk mempertahankan kelanjutan dari tenun2 asli lombok, sementara, pariwisata Lombok itu sendiri, tidak bisa menghargai budaya tenun mereka, dengan mencari jalan mudah untuk mengisi lemari display yang mereka miliki. Yang lebih kasihan lagi adalah, turis yang dibohongi, mengenai asal-usul kain ini, dan kwalitasnya.

Kami tidak mengutuk atau mepersalahkan mereka menjual kain Troso, karena kain Troso itu sendiri begitu berjasa meningkatkan tenanga dan ekonomi daerah di Jawa tengah, tapi kami sangat sedih, kalau tamu/pembeli harus dibohongi dengan kebenaran dari kain-kain tersebut. Kalau kain dari Troso, ya sebutlah kain itu dari Troso.

Namun di Sosmed ini, kami juga sering melihat para penjual mengambil kesempatan dari kesepitan ilmu para pnggemar kain Nusantara, dimana kain Troso yang bermotif Sumba disebut kain Sumba asli, dan berani-beraninya kain yang warna biru disebut berwarna alam.

Jadi kesimpulanya adalah, para penenun tradisional gedogan itu sebenarnya berperang bukan hanya melawan Fake produk dari China dan copy-cat dari negara lainya, namun berjuang memerangi orang dari negeri sendiri yang tidak bisa menghargai budaya sendiri. 😞😞😞😞

Buday Fake Nusantara ini, bukan hanya di Lombok, namun menebar diseluruh Nusantara. Pemerintah Pariwisata Indonesia, sesungguhnya harus bisa mengatasi hal ini, agar kain nusantara bisa lebih kita bangun menjadi salah satu produk dunia yang selalu unik dan bernilai tinggi. Salam wastra.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *