Mengapa pewarna alami itu tidak mudah bersaing dengan pewarna sintetis, simak ceritanya.

Mengapa pewarna alami itu tidak mudah bersaing dengan pewarna sintetis, simak ceritanya.

PEWARNA ALAMI , AJARI DAN SEMANGATILAH ARTISAN (SENIMAN KAIN), CARA PRODUKTIF UNTUK MENANAM BAHAN PEWARNA ALAM, SEBELUM DIBERIKAN SULUHAN UNTUK MEWARNAI!!

Kampanye dan upaya untuk membangkitkan kembali tenun dan batik buatan tangan dengan memakai warna alami di Indonesia saat ini semakin menggebu-gebu. Banyak badan-badan organisasi menjamur memberikan penyuluhan agar para seniman tenun dan batik itu mengadopsi pemakaian warna alamai. Sekarang banyak diantara para seniman kain sudah punya ilmu yang sangat berharga dan luar biasa namun kendala untuk menerapkan ilmu ini betul-betul punya kendala besar “KURANGNYA BAHAN BAKU PEWARNA ALAM” yang mereka bisa dapatkan dengan mudah dan secara cuma-cuma.

Setelah kami berkeliling Nusantara, dan berbincang-bincang dengan beberapa seniman tenun dan batik, masalah yang merata dari satu daerah ke daerah lain adalah, mereka ingin melanjutkan memakai warna alam namun mereka tidak bisa mendapatkan bahanya, masalah tersebut diantranya adalah:

• Misalnya, ketika diajarkan agar mereka memaki tanaman Nila (Indigofera Tinctoria untuk warna biru), bahan-bahan ini harus mereka cari dulu disemak-semak belukar, dan tanaman ini biasanya hanya tumbuh bagus pada saat musim hujan, sehingga pada saat musim kering, mereka tidak bisa melakukan warna biru karena tidak ada daun nila.
• Untuk mendapatkan warna merah, mereka diajarkan untuk mewarnai dengan akar mengkudu, namun kemungkinan besar sumber akar mengkudu ini sangat minim disekitar mereka, sehingga meneruskan hal ini sangat tidak memungkinkan.
• Untuk mendapatkan warna kuning yang bagus, merata dan kuat, mereka di ajarkan untuk memakai kayu tegeran, kayu kuning, namun para artisan mungkin sama sekali tidak mengenal seperti apa sebenarnya bentuk pohon kayu kuning ini.

Amat sangat disayangkan, dan boleh dibilang menyedihkan, ketika para artisan yang sudah di suluh ingin sekali melanjutkan hastrat mereka untuk meneruskan menggunakan ilmu yang diterima, menggunakan warna alami, banyak diantara mereka akhirnya harus beralih membeli bahan-bahan pewarna alam kering yang ditawarkan oleh badan-badan yang menyuluh tadi. Harga-harga ini tentunya tidak murah, yang membuat semua kain-kain pewarna alam itu hanya bisa kita dapatkan dengan harga yang mematikan semangat pencinta kain, untuk mendapatkan kain yang mereka dambakan.

Kesulitan untuk mendapatkan bahan pewarna alam tersebutlah salah satu hal utama mengapa kain yang diwarnai pewarna alam itu menjadi diperlakukan seperti “KAIN KATEGORI PUNAH”. Padahal, Indonesia yang begitu subur, para pengrajin (artisan) yang bersangkutan mungkin bisa mencoba menanam tananam yang diperlukan disekitar rumah masing-masing.

Dalam praktek, para penenun di desa-desa sebetulnya bisa mendapatkan semua bahan-bahan untuk mebuat kain-kain mewah berkwalitas tinggi dengan menanam semua bahan-bahan yang dibutuhkan, dari pohon kapas yang nantinya mereka bisa pintal, dan semua bahan pewarna bisa didapatkan dari kebun sekeliling rumah mereka, misalnya menanam pohon mengkudu, pohon manga, semak nila, dan bahan=bahan lain sebagainya.

Kesulitan untuk mendapatkan bahan pewarna alam dan semakin meningkatnya permintaan pasar untuk kain yang dibuat dengan pewarna alam, telah mengakibatkan lahirnya beberapa “PENDUSTA” yang mengakui warna sitetis yang mirip warna alam itu mereka akui kain dengan warna alami.

Jadi, untuk badan-badan oraganisasi yang suka memberikan penyuluhan cobalah mengajari mereka untuk menanam bahanya dulu disekitar rumah mereka masing-masing, agar mereka tidak harus merasa menjadi korban dari penyuluhan, dimana mereka sering merasa dihadapkan dengan perasaan terpaksa untuk membeli bahan yang sebenarnya tidak bisa dijangkau ekonomi mereka. Dengan persentasi pembeli kain pewarna alami di pasaran masih sangat minim, sehingga kain-kain yang mereka buat belum tentu cepat laku dipasaran, terutama untuk para artisan yang tidak memiliki akses ke pasar nasional atau internasional.

Salam Wastra dari Kami
Team Wastra Indonesia, dan Connect Indonesia, The Charity



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *