Memburu Tenun Ikat Lembata

Memburu Tenun Ikat Lembata

Blog contributor: Tony Labuan 

Menenun oleh orang Lamaholot (etnik Alor, Lembata dan Flores Timur :yang mendiami kepulauan solor) adalah pekerjaan kaum wanita yang turun temurun dari generasi ke generasi.Pekerjaan ini dianggap pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang selepas musim panen di ladang. Oleh karena itu pekerjaan menenun dianggap ringan karena dikerjakan pada waktu senggang. Akan tetapi ada sisi lain dibalik fakta tersebut, yakni menenun menyita banyak waktu sampai berbulan-bulan bahkan bertahun dan pengerjaan dimulai dengan seremonial penyembelihan ayam, sirih pinang dan berpuasa bagi si penenun.

Mengapa kain tenun menjadi penting bagi etnik Lamaholot? Ada beberapa alasan yang dikemukan namun penulis melihat dari aspek kegunaan yang sarat makna budaya : sebagai busana sehari-hari dan busana pada pesta/upacara adat, mas kawin (mahar), pemberian dalam acara kematian, alat denda dalam pelanggaran hukum adat, status sosial, dan juga fungsi ekonomi sebagai alat tukar. Namun belakangan ini ada fenomena menarik fungsi kain tenun menjadi fashion yang “ethnic and nature”, asesories tata ruang modern dan lebih lagi sebagi bahan koleksi.

Di era semakin modern, kain tenun semakin digandrungi oleh wisatawan dan lebih lagi memburu kain tenun yang diproduksi dengan benang tradisional, pewarna alam dan usia tenunan yang diukur oleh kepemilikan generasi ke berapa. Sungguh luar biasa eksotis kain tenun Lembata. Tenunan tradisional terselip sejumlah pesan spiritual yang menyangkut pandangan hidup dan kepercayaan masyarakat. Pesan ini terjelma dalam ornamen motif yang menggambarkan kehidupan dan keseharian serta adat istiadat. Buahpikirandancita-cita dari setiap etnis/suku dalam karya tenunannya dipelihara dari generasai ke generasi, sehingga menempatkan tenunan tradisional menggapai sesuatu yang harmoni, berbeda dari yang kesehariaannya.Terpatrinya jiwa yang mendalam dan didukung oleh pengalaman bertahun-tahun dari generasi ke generasi, kekuatan spiritual dari tenunan dapat dilihat dari kombinasi yang harmoni dari mengikat motif,mewarnai, menata dan menenun, sehingga hasil tenunannya sangat dihargai dan dicintai. Hal ini terungkap dari surat elektronik Mr. David Richardson (Consultan Textiles Tour to Lesser of Sunda) kepada penulis tentang persipan Tour Textiles, ” …this is my expectancy. Weaving ikat’s in Iliapi and Lamalera famous on the world and my inspiration” . Tenun ikat tradisional Lembata tersebar pada beberapa etnik/ suku yang memiliki kekhasan masing-masing. Ada tenunan Lamalera dengan berbagai motif seperti ata dika, befajak, belere, futu gala, gaja penapa, iu, jo, ka’u belapit, kebeku, kelulus, ketipa, mekot, moku, moku bela, nuba, petola, pusu rebo, taru mata, tena, tona. Dari Atadei ada tenunan “petek haren”, petek ale dan motif ”atadiken”. Dari Ileape ada kelas tenun mulai dari tenepa, ohin, hebaken dan topon. Ada juga tenunan kedang yang motifnya tidak dengan ikat melainkan sotis. Harga kain tenun tradisional sangat berfariasidan apabila diminati, harganyapun tidak kalah banding dengan harga 6 gram emas 24 karat hingga mencapai puluhan juta rupiah. Meski harga selangit kain tenun tradisional Lembata tetap digandrungi oleh wisatawan baik komunitas fotografer, komunitas kolektor maupun komunitas adventuredan komunitas lainnya. Dua tahun terakhir fenomena memburu kain tenun tradisional Lembata tidak hanya sekedar orang perorangan atau hanya untuk membeli dan pulang. Kemasan paket wisata tour tenun ikat (wisatawan nusantara) atau juga dinamakan tour textiles (wisatawan mancanegara) semakin diminati.

Tahun 2013 adaPurnomo group fotografer dari Jakarta yang memburu kain tenun mulai dari Alor, Lembata dan Flores Timur. Pada Tahun 2014 group ini juga memburu kain tenun Lembata sebanyak 3 kali trip dan pada Tahun 2015 telah merencanakan tournya ke Lembata pada bulan Juli nanti. Pada Tahun 2014 Group Ria Basuki (pencinta tenun ikat) juga mengunjungi Lembata dalam perburuan kain tenun NTT. Tour Textiles yang dikonsultani oleh suami-istri David & Sue, telah jatuhcinta dengan tenun ikat Lembata pada tahun 2012 dan pada bulan mei tahun 2014 memulai tour ke Lembata dengan group textile nya yang semakin banyak peminat. Pada tahun 2015 group ini akan melakukan tour kembalike Lembata pada tanggal 17 Mei 2015 di Ileape dan tanggal 19 Mei 2015 di Lamalera.

Tenun taradisional Lembata saat ini memasuki era terbuka dimana pertumbuhan sektor pariwisata membawa dampak saling tarik menarik dan atau tolak menolak. Cita-citaluhurkarya senitenun yang memilikipesan spiritual yang dalam agar tetap terpelihara turun-temurun sepanjang masa. Kekuatiran bahwa tenun sebagai nilai tukar (ekonomi), akan menghasilkan pengaruh yang bertolak belakang dengan pesan spiritual dan nilai adat istiadat dapat dihindari dengan membangun konsep dan konteks yang berkelanjutan (sustainable tourism). Dalam cita-cita keberlanjutan dan kekuatiran akan kepunahan tenun tradisional, mari kita pelihara dan melestarikan tenun tradisional dengan cara kita
masing-masing. Semoga (Tonny Lebuan. Pencinta Tenun Ikat, tinggal di Lembata)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *