CERITA ULOS DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA

CERITA ULOS DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA

Kontributor: Jim Siahaan

Bertenun sudah dilakukan sejak jaman dahulu oleh orang Batak Toba untuk memenuhi kebutuhan sandang atau pakaiannya. Hasil tenunan itu secara umum disebut Ulos. Pada zaman dahulu Ulos dalam bentuk helainya yang utuh tanpa dipotong dan dijahit, menjadi pakaian sehari-hari bagi orang Batak Toba. Di samping celana dan baju, seseorang melengkapi pakaiannya dengan beberapa helai Ulos. Kaum lelaki memakai kain yang disebut Singkot, di bahunya mereka memakai Ulos yang disebut Hande-hande. Ditambah lagi Ulos yang dipakai sebagai penutup kepala yang disebut Tali-tali atau Detar.

Kaum perempuan memakai Ulos sebagai kain di bagian bawah hingga batas bawah dada yang disebut Haen, dan untuk penutup punggung dan dada disebut Hoba-hoba atau Hohop hohop. Sehelai Ulos yant dipakai sebagai selendang disebut Ampe-ampe, sedang Ulos penutup kepala disebut Saong. Bila perempuan menggendong anak, Ulos untuk menggendong anak itu disebut parompa. Dalam hidupnya, sesuai dengan adat Batak, setiap orang sejak dari lahir akan menerima minimal tiga macam Ulos. Ketiga Ulos itu sesuai adat Dalihan Natolu disebut Ulos na marsintuhu.

Ulos pertama diterima sewaktu baru lahir disebut ulos parompa. Ulos itu diberikan oleh keluarga dari ibunya, Kakek atau Pamannya. Ulos ini biasanya Ulos Mangiring atau Ulos Bolean, dengan harapan segera mendapat adi Yang kedua diterima pada saat menjadi pengantin. Ulos yang disebut Ulos Hela ini diberikan oleh Mertuanya. Sepasang Suami isteri yang sudah mendapatkan Ulos Hela Ragi Hotang dengan demikian syah untuk ikut dalam acara acara adat, mempunyai hak mengeluarkan pendapat dan suaranya didengar dalam berbagai mufakat adat. Seorang yang kawin dan diberkati di gereja atau oleh tuan kadi saja, tidak memperoleh hak seperti itu.

Ulos ketiga adalah Ulos Pansamot yang diterima sewaktu mengawinkan puteranya. Suami isteri yang sudah pernah menerima Ulos Pansamot juga sudah dianggap Orangtua yang berhasil. Dengan demikian mereka berdua pantas memakai Ulos Ragi Idup atau Pinunsaan itu di acara resmi. Mereka memiliki Ulos Ragi Idup itu bukan dengan membeli atau cara cara lain. Tetapi lewat upacara Adat. Ulos penting berikutnya bagi seseorang diterimanya saat dia sudah meninggal dunia. Ulos itu disebut Ulos Saput. Ulos ini diberikan oleh Paman keluarga dari ibu juga. Ulos Saput untuk yang Sarimatua atau Saurmatua diberikan Ulos Ragi Idup, sedang untuk yang lebih muda diberikan Ulos Sibolang.

Demikianlah pemberian Ulos hanya oleh yang berderajat atau berkedudukan adat lebih tinggi dalam Sistim Adat Dalihan Natolu kepada yang berderajad adat di bawahnya. Pihak pemberi atau penyalur berkat kepada pihak pemohon atau penerima berkat.

Dimasa lalu sebelum ada kain tekstil modern, Ulos tenunan itu prinsipnya adalah sama seperti kain yang digunakan pada saat ini. Secara prinsip, Ulos tenun tangan itu tidak berbeda dengan kain Ulos yang dihasilkan pabrik tekstil zaman sekarang ini. Ketika disebut bahwa Ulos Batak itu sebagai ulos tondi ada sebagian orang Kristen memandang ulos menjadi berhubungan dengan soal-soal okultisme (kepercayaan terhadap hal-hal supranatural seperti sihir). Padahal penilaian itu hanyalah cara pandang individu, orang yang beragama Kristen bisa berpandangan lain.

Tentang mangulosi pun sebaiknya dilihat sebagai simbol rasa kasih dan doa damai sejahtera kepada Yang Maha Kuasa bagi orang yang diulosi.
Keterasingan kepada Ulos sering diperparah oleh pandangan sebagaian orang bahwa didalam ulos itu melekat kuasa-kuasa gelap, sehingga untuk menjauhkannya dilakukanlah pembakaran ulos Batak. Menurut beberapa orang bahwa kehadiran ulos itu menjadi sebuah kutukan bagi orang Batak kalau masih ada disimpan. Orang Kristen tidak perlu melenyapkan Ulos Batak, karena ulos itu sama dengan kain lainnya yang dibuat menjadi pakaian. Orang beragama adalah orang merdeka dan tidak berada dibawah penindasan roh-roh dunia. Pada akhirnya, kerangka dasar theology harus dapat menjadi dasar yang kuat dan luas dalam memandang dunia ini serta segala sesuatu yang ada didalamnya, sehingga dapat melihat kebudayaan dalam cara pandang Allah. Adat tradisi adalah bagian daripada Kebudayaan yang bertujuan untuk pengayaan kehidupan umat manusia.

Ulos Mangiring sebagai Ulos Parompa
Ulos Ragi Hotang sebagai Ulos Hela.
Ulos Ragi Idup Sebagai Ulos Pansamot.

Ulos Bolean sebagai Ulos Parompa


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *